Jakarta, Kamis 08 Januari 2026- Founder sekaligus CEO Foreign policy Community of Indonesia (FPCI)-organisasi non politis dan non profit yang bergerak di bidang kebijakan luar negeri- Dino Patti Djalal, angkat suara terkait ketegangan Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela yang berujung pada serangan militer skala besar dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istri
Melansir Antara (7/1), Dino yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk AS, mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan berbahaya, salah, dan melanggar hukum internasional dan Piagam PBB
“Dari hasil sekilas riset kami, para pakar hukum independen dan kredibel-baik dari Barat maupun Global South-umumnya menyimpulkan bahwa tindakan AS di Venezuela melanggar hukum internasional dan Piagam PBB,” ucap Dino dalam pernyataan sikap FPCI di Jakarta pada hari Rabu (7/1)
Konggres AS-termasuk dari Partai Demokrat dan beberapa anggota Partai Republik- serta sebagian besar anggota Dewan Keamanan PBB, dikatakan Dino, menyebut serangan AS ilegal dan tidak dapat dibenarkan
Dino mengibaratkan serangan pada Sabtu pekan lalu mirip dengan agresi Uni Soviet ke Afghanistan tahun 1979 yang ditentang oleh AS. “Waktu itu Amerika menentang keras invasi Soviet terhadap Afghanistan,” ujarnya, seraya menegaskan pernyataan sikapnya sejalan dengan seruan PM Malaysia Anwar Ibrahim yang mengecam penangkapan Maduro
“Kami di FPCI juga berpendapat bahwa jika memang Presiden Maduro harus diadili, maka itu dilakukan di Venezuela, oleh pengadilan Venezuela dan dengan jaminan proses peradilan yang fair,” tambahnya
Penggunaan kekuatan militer untuk menggulingkan rezim, dikatakan Dino, akan menjadi preseden bagi negara lainnya untuk melakukan tindakan serupa
Penguasaan atas sumber daya minyak Venezuela diyakini Dino sebagai tujuan utama AS melakukan serangan tersebut. Menurutnya, hal tersebut akan membawa dampak berbahaya dimana kekuatan tak terbendung, keserakahan, dan lawlessness, bercampur menjadi satu secara toxic, sehingga menimbulkan keresahan bangsa-bangsa di dunia
Untuk itulah Dino meminta pemerintah Indonesia berbicara secara kritis, gamblang, dan terbuka kepada pemerintahan Trump, mengingat AS-Indonesia telah menjalin Comprehensive Strategic partnership, yang merupakan level kemitraan tertinggi bagi Indonesia
“Sebagaimana sesama mitra, selalu ada ruang untuk kritik yang sehat. Ingatlah bahwa kemitraan ini didasarkan pada kesetaraan, kedaulatan, dan sikap saling menghormati, bukan sudordinasi. Jika AS tersinggung dikritik Indonesia, maka berarti AS bukan mitra sejati Indonesia. Apalgi AS sendiri sudah sering mengkritik Indonesia,” pungkasnya