Tokyo, Senin 12 Januari 2026- Sebuah lembaga penelitian kesehatan di Jepang melaporkan bahwa jumlah orang yang terinfeksi virus melalui gigitan kutu pada tahun lalu telah mencapai rekor tertinggi
Data awal yang dirilis oleh Institut Keamanan Kesehatan Jepang menunjukkan bahwa sebanyak 191 orang dilaporkan menderita Sindrom Demam Berat dengan Trombositopenia atau SFTS sepanjang tahun 2025. Angka ini meningkat lebih dari 50 kasus dibandingkan dengan rekor sebelumnya yang tercatat pada tahun 2023
Penyakit SFTS dikenal sangat berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit darah secara drastis, pendarahan, hingga kehilangan kesadaran yang berakibat fatal bagi penderitanya. Sebagian besar kasus dilaporkan terjadi di wilayah Jepang barat, dengan total sebaran mencapai 32 prefektur
Berdasarkan rincian data, Prefektur Kochi mencatat kasus terbanyak dengan 15 laporan, diikuti oleh Shizuoka dan Oita dengan masing-masing 13 kasus, serta beberapa prefektur lain seperti Nagasaki, Saga, Kumamoto, dan Hyogo yang juga melaporkan angka infeksi signifikan
Tren penyebaran virus ini kini mulai merambah ke wilayah Jepang timur. Prefektur seperti Hokkaido, Ibaraki, Tochigi, dan Kanagawa termasuk dalam daftar wilayah yang mengonfirmasi kasus pertama mereka. Perluasan wilayah sebaran ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan setempat mengingat fatalitas penyakit yang cukup tinggi
Maeda Ken, kepala departemen ilmu kedokteran hewan di institut tersebut, memberikan peringatan keras agar masyarakat lebih menyadari bahaya penyakit menular ini. Ia menjelaskan bahwa jumlah pasien biasanya mulai mengalami peningkatan pada bulan Maret
Sebagai langkah pencegahan, warga diimbau untuk selalu menggunakan obat antiserangga dan mengurangi paparan kulit secara langsung saat sedang beraktivitas di luar ruangan guna menghindari gigitan kutu
sumber: NHK News