News

Kredit Tembus Rp8.314 Triliun, Perbankan Nasional Kian Kokoh Ditopang Sektor Produktif

14 Jan 2026 by Author
photo

JAKARTA, 12 JANUARI 2026 – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, industri perbankan nasional sepanjang 2025 justru menunjukkan ketahanan yang semakin solid. Fungsi intermediasi tetap berjalan efektif, ditopang pertumbuhan kredit yang konsisten, likuiditas yang longgar, serta kualitas aset yang terjaga.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga November 2025, kredit perbankan tumbuh 7,74 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 7,36 persen. Total kredit yang telah disalurkan perbankan nasional mencapai Rp8.314,48 triliun.

Pertumbuhan tersebut tidak ditopang oleh sektor konsumtif semata, melainkan didorong kuat oleh sektor-sektor produktif. Kredit pada sektor pengangkutan dan pergudangan tumbuh signifikan sebesar 18,33 persen yoy, sementara sektor pengadaan listrik, gas, dan air mencatat pertumbuhan tertinggi hingga 21,83 persen yoy.

Sektor pertambangan tumbuh 11 persen, disusul konstruksi sebesar 8,14 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas investasi dan pembangunan infrastruktur.

“Kinerja perbankan sepanjang 2025 tetap resilien dan mampu menjaga keseimbangan antara fungsi intermediasi dan pengelolaan risiko,” ujar Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi.

Dari sisi peruntukan, Kredit Investasi menjadi motor utama, tumbuh 17,98 persen yoy, tertinggi dalam satu dekade terakhir. Lonjakan ini terutama ditopang sektor pertambangan dan industri pengolahan.

“Ini menegaskan peran strategis perbankan dalam mendorong ekspansi dan peningkatan kapasitas sektor riil,” imbuh Ismail.

Sementara itu, Kredit Konsumsi tumbuh 6,67 persen yoy, sedangkan Kredit Modal Kerja meningkat lebih terbatas sebesar 2,04 persen yoy. Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan kuat sebesar 12,06 persen yoy, meski kredit kepada UMKM masih terkontraksi 0,64 persen yoy.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) melanjutkan tren positif dengan pertumbuhan 12,03 persen yoy menjadi Rp9.899,07 triliun. Kondisi likuiditas perbankan tetap sangat memadai, tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 29,67 persen, jauh di atas ambang batas regulator.

Penurunan suku bunga turut menopang kinerja industri. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun menjadi 8,97 persen pada November 2025, terutama didorong oleh penurunan bunga kredit produktif. Sejalan dengan itu, suku bunga deposito juga menurun menjadi 4,60 persen, mencerminkan penyesuaian biaya dana perbankan.

Dari sisi risiko, kualitas kredit tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di level 2,21 persen, sementara NPL net membaik menjadi 0,86 persen. Ketahanan industri semakin diperkuat oleh rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi, mencapai 26,05 persen.

Ismail menegaskan, dengan permodalan yang kuat, likuiditas memadai, serta pengawasan ketat, perbankan nasional memiliki bantalan yang cukup untuk menghadapi dinamika global.

“OJK terus memastikan industri perbankan tetap sehat dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Memasuki 2026, OJK memproyeksikan kinerja perbankan tetap stabil, seiring berlanjutnya pertumbuhan kredit dan DPK, serta meningkatnya permintaan dari sektor riil, dengan stabilitas sistem keuangan nasional yang tetap terjaga.

Scroll to Top