Jakarta, Senin 12 Januari 2026 – Presiden Prabowo Subianto mengatakan pemerintah berhasil menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen. Penurunan tersebut terjadi karena pemerintah memangkas reguasi yang menghambat penyaluran pupuk subsidi dari pabrik ke petani.
Prabowo mengatakan kebijakan tersebut dinilai memberi dampak langsung bagi petani melalui harga yang lebih terjangkau, serta ketersediaan pupuk yang lebih pasti.
“Kita berhasil pertama kali dalam sejarah bangsa kita, kita berhasil menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen,” kata Prabowo dalam peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur dilihat dari YouTube Sekretariat Presiden, Senin (12/01/2026) dilansir Antara.
Penurunan tersebut terjadi setelah pemerintah memangkas regulasi yang selama ini menghambat penyaluran pupuk dari pabrik hingga ke tangan petani.
Presiden menyebut terdapat 145 peraturan yang melibatkan 11 kementerian/lembaga serta kepala daerah terkait distribusi pupuk bersubsidi yang membuat harga pupuk ke petani mahal.
“Kita hilangkan itu semua, 145 peraturan kita hapus dan sekarang tidak perlu 13 tanda tangan, cukup 1 tanda tangan, 1 instruksi. Kemudian pupuk itu langsung ke petani dan petani tidak perlu pakai macam-macam, cukup kartu penduduk,” ujar Prabowo.
Kepala Negara menambahkan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sempat melaporkan bahwa potensi penurunan harga pupuk bisa hingga 25 persen. Namun, Presiden memilih menahan sebagian penurunan agar pabrik pupuk tetap memperoleh keuntungan yang wajar.
Meski demikian, volume penyaluran pupuk justru meningkat signifikan hingga 700 ribu ton.
Selain penurunan harga pupuk, Prabowo juga menyampaikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat meningkat dari 106 menjadi 125 atau yang tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.
“Sekarang juga perberasan, perberasan petani-petani beras sekarang penghasilannya naik. Nilai tukar petani naik, dari 106 jadi 125, tertinggi selama sejarah Republik Indonesia. Cadangan kita juga tertinggi, produksi kita, beras kita tertinggi selama sejarah Republik Indonesia,” tandasnya.