Jeddah, Senin 12 Januari 2026- Dukungan terhadap kedaulatan negara Somalia-dengan Somaliland di dalamnya- ditegaskan pemerintah Indonesia dalam Konferensi Tingkat Menteri Luar Biasa (KTM-LB) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) ke-22
“Indonesia mendukung penuh kedaulatan dan kesatuan teritorial Republik Federal Somalia, dengan Somaliland sebagai bagian yang tidak terpisahkan”, ujar Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta dalam konferensi yang diadakan di Jeddah, Arab Saudi, hari Sabtu (10/1), pada siaran pers di laman resmi Kemlu RI
Pada kesempatan tersebut, Anis mengecam keras dan tegas menolak pengakuan Israel atas Somaliland, yang berpotensi memicu destabilisasi di kawasan dan melanggar hukum internasional dan Piagam PBB
Ia juga mendorong agar permasalahan terkait Somaliland dapat diselesaikan secara internal serta mendesak agar OKI dapat mengaktifkan kembali OIC Contact Group tentang Somalia dan memberdayakannya untuk menjaga integritas teritorial Somalia dan keamanan kawasan
OIC Contact Group sendiri merupakan kelompok kerja khusus di bawah naungan OKI yang dibentuk untuk menangani isu-isu spesifik, mendesak, atau krisis yang dialami oleh negara-negara anggota maupun minoritas Muslim di luar wilayah OKI
KTM-LB OKI digelar atas permintaan Presiden Republik Federal Somalia, Hassan Sheikh Mohamud, merespon tindakan Israel yang mengakui Somaliland sebagai negara. Dihadiri oleh 39 negara anggota OKI dimana 11 di antaranya diwakili pada level menteri luar negeri
Adapun pertemuan tersebut berhasil mengadopsi 2 resolusi, termasuk penolakan terhadap pengakuan Israel atas Somaliland dan dukungan OKI untuk mengatasi implikasinya
Indonesia sebelumnya telah turut serta dalam Joint Statement yang diprakarsai Mesir dan didukung oleh 22 negara, serta OKI dan GCC, untuk menyampaikan penolakan atas pengakuan Israel termasuk dukungan kepada Somalia, serta penghormatan pada kedaulatan dan kesatuan Somalia
Diketahui pada 26 Desember 2025, secara mengejutkan Israel menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Somaliland setelah wilayah tersebut memisahkan diri dari Somalia tahun 1991. Keputusan Israel itu memicu gelombang penolakan dari sejumlah negara di dunia