SURABAYA, 12 JANUARI 2026 – Berawal dari keisengan komunitas pesepeda di Surabaya pada 2016, Sub Jersey kini bertransformasi menjadi brand sport apparel lokal yang diperhitungkan. Bahkan sukses menembus pasar premium internasional seperti Jepang dan Korea Selatan.
CEO Sub Jersey, Bagus Ramadani, menceritakan bahwa ide bisnis ini lahir dari keresahan sederhana. Saat itu, apparel sepeda identik dengan produk impor berharga mahal, sehingga hanya menyasar kalangan tertentu.
Kondisi tersebut mendorong Bagus dan komunitasnya menciptakan apparel sepeda yang terjangkau namun tetap berkualitas.
“Kalau dilihat dari piramida, pasarnya hanya di bagian atas yang jumlahnya kecil. Visi kami justru menghadirkan produk yang bisa dinikmati semua kalangan, dari bawah hingga atas,” ujar Bagus dalam podcast Cerita Bersama Brand Lokal di kanal YouTube JNE_ID.
Produk awal Sub Jersey dikenal dengan nama 05AM, terinspirasi dari kebiasaan komunitas gowes yang memulai aktivitas sejak pukul 05.00 pagi. Nama ini kemudian menjadi salah satu identitas kuat brand tersebut.
Titik balik popularitas Sub Jersey terjadi pada 2018, saat meluncurkan jersey edisi khusus Hari Kemerdekaan RI. Alih-alih menggunakan motif Jawa yang umum, Sub Jersey mengangkat kekayaan budaya Nusantara seperti Tongkonan dari Sulawesi dan Batik Mega Mendung Cirebon.
Dari sinilah lahir seri archipelago yang semakin memperkuat identitas brand. “Respons komunitas sangat besar. Konsumen ternyata menghargai desain yang punya cerita dan nilai budaya,” ungkapnya.
Di tengah ketatnya persaingan industri sport apparel, Sub Jersey bertahan dengan dua kunci utama: riset mendalam dan komitmen pada kualitas. Setiap produk dikembangkan melalui proses riset material dan desain yang bisa memakan waktu berbulan-bulan demi memastikan kenyamanan dan performa maksimal.
Meski berbasis di Surabaya, pasar terbesar Sub Jersey justru berasal dari Jakarta, seiring meningkatnya belanja online pascapandemi. Untuk menjaga kepuasan pelanggan, Sub Jersey mempercayakan pengiriman produknya kepada JNE.
“Orang belanja tentu berharap produknya bagus dan sampai tepat waktu. Itu yang kami jaga,” kata Bagus.
Langkah Sub Jersey ke pasar global pun terjadi secara organik. Saat pandemi, seorang pesepeda asal Korea Selatan membeli produknya dan membawanya pulang. Dari situ, pesanan dalam jumlah besar terus mengalir hingga kini. Jepang kemudian menyusul sebagai pasar potensial.
Menariknya, material Sub Jersey yang dirancang untuk iklim tropis Indonesia justru sangat cocok digunakan di negara bermusim dingin. “Bahan elite kami ternyata lebih pas dipakai di Jepang dan Korea karena suhunya lebih dingin,” pungkas Bagus.
Kisah Sub Jersey menjadi bukti bahwa brand lokal dengan identitas kuat, kualitas terjaga, dan cerita autentik mampu bersaing hingga ke panggung global.